CA dan TJ

Carakan Anyar lan Tuladha Jejeg
seratan Jawi ing ngandhap ngginakaken aksara Jawi Carakan Anyar

꧚ꦐꦐꦃꦁꦶꦼꦕꦺꦈꦼꦻꦀ꧂ꦄꦏꦶ꧋

ꦅꦸꦅꦸꦺꦑꦻꦁꦟꦅꦸꦅꦸꦃꦸꦊ꧋

ꦀꦏꦸꦼꦀꦆꦶꦊꦈꦶꦆꦚꦺꦁꦕ꧋

ꦉꦸꦊꦸꦆꦞꦶꦇꦁꦘꦷꦁꦊꦶꦇꦁꦿ

ꦺꦍꦁꦤꦏꦞꦼꦉꦸꦈꦶꦾꦐꦏꦞꦼ꧋

ꦺꦍꦁꦔꦺꦓꦉꦔꦺꦓꦉꦘꦉꦼꦄꦸꦼ꧋

ꦆꦁꦘꦷꦁꦆꦶꦁꦸꦏꦥꦇꦔꦽꦆ꧚

    Seratan Jawi ngandhap menika ngginakaken font Tuladha Jejeg ingkang sampun mlebet unicode

      ꧋ꦒꦒꦫꦤ꧀ꦤꦶꦁꦮꦺꦴꦲꦏꦿꦩꦶ꧈

      ꦢꦸꦢꦸꦧꦤ꧀ꦝꦢꦸꦢꦸꦫꦸꦥ꧈

      ꦲꦩꦸꦁꦲꦠꦶꦥꦮꦶꦠꦤ꧀ꦤꦺ꧈

      ꦭꦸꦥꦸꦠ꧀ꦥꦶꦱꦤ꧀ꦏꦼꦤꦥꦶꦱꦤ꧀

      ꦪꦺꦤ꧀ꦒꦩ꧀ꦥꦁꦭꦸꦮꦶꦃꦒꦩ꧀ꦥꦁ꧈

      ꦪꦺꦤ꧀ꦲꦔꦺꦭ꧀ꦏꦭꦁꦏꦸꦁ꧈

      ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦤꦠꦶꦤꦸꦩ꧀ꦧꦱ꧀ꦲꦂꦠ꧉

fonta unicode aksara Jawa

Beberapa postingan dokumen huruf Jawa terdahulu di blog ini menggunakan font aksara Jawa yang bernama Carakan Anyar, sehingga ketika komputer terinstall font Tuladha Jejeg berakibat tampilan huruf Jawa akan acak-acakan dan tidak terbaca dengan benar.

Tuladha Jejeg adalah sebuah fonta Unicode aksara Jawa. Tuladha Jejeg menggunakan lebar goresan karakter yang bervariasi (tebal-tipis) dengan serif di beberapa glif. Tuladha Jejeg sudah support di open office dan browser mozilla firefox versi 11 ke atas.
Situs lengkapnya silahkan kunjungi : https://sites.google.com/site/jawaunicode/

Berikut ini adalah contoh kalimat yang ditulis dengan Tuladha Jejeg

ꦱꦼꦤꦼꦁꦗꦮ
꧋ꦔꦺꦭ꧀ꦩꦸꦲꦶꦏꦸꦏꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦤ꧀ꦛꦶꦭꦏꦸ꧉

꧋ꦧꦶꦱꦤꦺꦏ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦧꦶꦱꦩꦕꦭꦤ꧀ꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮꦲꦶꦏꦸꦲꦩꦂꦒ

ꦒꦼ꧒ꦩ꧀ꦭꦏꦸꦱꦶꦤꦲꦸ꧉

꧋ꦲꦪꦺꦴ꧈ꦮꦤꦶꦲꦺꦴꦫꦱꦶꦤꦲꦸꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧉

ꦱꦸꦒꦼꦁꦚꦺꦴꦧꦶ

ꦩꦠꦸꦂꦤꦸꦮꦸꦤ꧀

Panambang ing Aksara Jawa

I. Panambang -ake (ꦀꦺꦄ )

a. Bila bersambung dengan suku kata tertutup (sigeg), huruf ꦀ-nya berubah menjadi seperti huruf penutupnya.

Contoh:

ꦁꦸ ꦆꦸꦐꦿ  + ꦀꦺꦄ       = ꦁꦸꦆꦸꦐꦤꦺꦄ

ꦀꦎꦠꦷꦐꦸꦽ + ꦀꦺꦄ       = ꦀꦎꦠꦷꦐꦸꦽꦃꦺꦄ

ꦏꦷꦁꦟꦷꦆꦿ + ꦀꦄꦷꦁꦿ       = ꦏꦷꦁꦟꦷꦆꦚꦄꦷꦁꦿ

ꦀꦎꦠꦹꦊꦸꦄꦿ +ꦀꦺꦄ = ꦀꦎꦠꦹꦊꦸꦄꦘꦺꦄ

ꦁꦷꦊꦸꦼ + ꦀꦺꦄ                 = ꦁꦷꦊꦸꦼꦓꦺꦄ

ꦁꦷꦊꦼ + ꦀꦄꦷꦁꦿ              = ꦁꦷꦊꦼꦓꦄꦷꦁꦿ

ꦓꦺꦈꦻꦁꦿ + ꦀꦄꦷꦁꦿ= ꦓꦺꦈꦻꦁꦕꦄꦷꦁꦿ

ꦓꦉꦾ +ꦀꦺꦄ             = ꦓꦉꦾꦀꦺꦄ

b. Terdapat beberapa kata yang bersuku kata akhir tertutup bila mendapat akhiran

ꦀꦺꦄ/ꦀꦄꦷꦁꦿ  berubah menjadi ꦄꦺꦄ/ꦄꦄꦷꦁꦿ.

Contoh:

ꦆꦺꦄꦻꦁꦿ –> ꦁꦺꦄꦻꦄꦘꦺꦄ

ꦊꦄꦁꦿ       –>  ꦏꦄꦄꦘꦺꦄ

ꦌꦌꦁꦿ      –>   ꦀꦎꦠꦌꦄꦘꦺꦄ

c. Bila bersambung dengan suku kata terbuka, mendapat perto­longan ꦀꦄꦿ, maka penulisannya

mendapat pertolongan sigeg ꦄ dan ꦀꦺꦄ/ꦀꦄꦷꦁꦿ menjadi ꦔꦺꦄ/ꦔꦄꦷꦁꦿ.

Contoh:

ꦀꦼꦐꦈ  + ꦀꦺꦄ             = ꦀꦼꦐꦈꦄꦔꦺꦄ

ꦀꦏꦥꦷꦄꦚ + ꦀꦄꦷꦁꦿ           =ꦀꦏꦥꦷꦄꦚꦄꦔꦄꦷꦁꦿ

ꦎꦊꦸ  + ꦀꦺꦄ                  =ꦎꦺꦊꦻꦄꦔꦺꦄ

ꦎꦊꦸ  + ꦀꦄꦷꦁꦿ               =ꦎꦺꦊꦻꦄꦔꦄꦷꦁꦿ

ꦁꦓꦶ  +ꦀꦺꦄ                      =ꦁꦺꦓꦄꦔꦺꦄ

ꦏꦝꦶꦐꦶ  + ꦀꦄꦷꦁꦿ               =ꦏꦝꦶꦺꦐꦄꦔꦄꦷꦁꦿ

ꦀꦼꦐꦺꦈ + ꦀꦺꦄ        =ꦀꦼꦐꦺꦈꦄꦔꦺꦄ

II. Panambang -a (ꦀ )

a. Bila bersambung dengan kata yang berakhir huruf legena penulisannya  seperti apa adanya.

Contoh: ꦑꦶꦇꦀ = bisaa                   ꦉꦸꦓꦀ  =      lungaa

b. Bila suku kata terakhir menggunakan huruf ꦍ, penulisan akhiran ꦀ tidak berubah.

Contoh: ꦄ꧂ꦊꦶꦺꦍꦀ = kapriyea ꧂ꦊꦶꦍꦍꦶꦀ   =priyayia

c. Bila bersambung dengan kata yang suku akhirnya selain berhuruf ꦍ dan ber-sandhangan wulu  ( ꦸ ) atau taling ( ꦺ), akhiran ꦀ   berubah menjadi ꦍ.

Contoh:    ꦑꦉꦶꦍ = balia                    ꦺꦃꦺꦁꦍ    =  renea

d. Bila suku kata terakhir menggunakan huruf ꦈ, penulisan akhiran ꦀ tidak berubah.

Contohnya ꦁꦈꦸꦀ   = nawua             ꦺꦇꦈꦸꦀ = sewua

e. Bila bersambung dengan kata yang suku akhirnya selain ꦈ dan  ber-sandhangan  suku (  ꦸ ) atau taling  tarung, (ꦺ _ ꦻ ) akhiran ꦀ  berubah menjadiꦈ .

Contoh;  ꦏꦝꦷꦑꦸꦈ = mlebua                ꦓꦼꦺꦐꦻꦈ  = nganggoa

f. Bila bersambung dengan suku kata tertutup (sigeg), akhiraꦀ berubah menjadi seperti huruf penutupnya (sesigeg-nya).

Contoh:ꦏꦓꦁꦕ = mangana     ꦇꦑꦽꦃ = sabara

ꦑꦷꦁꦶꦼꦓ= beninga        ꦇꦸꦇꦾꦀ  = susaha

III. Panambang -an ( ꦀꦁꦿ )

a. Bila  besambung dengan suku kata terbuka dan legena huruf ꦀ-nya luluh dengan  huruf penutupnya.

Contoh:  

ꦐꦈ + ꦀꦁꦿ   = ꦐꦈꦁꦿ

ꦺꦇꦈ + ꦀꦁꦿ = ꦺꦇꦈꦁꦿ

b. Bila bersambung dengan suku kata terbuka ber-sandhangan wulu, wulu-nya berubah menjadi taling.   

Contoh:    

ꦑꦉꦶ + ꦀꦁꦿ  = ꦑꦺꦉꦁꦿ

ꦇꦏꦥꦶ + ꦀꦁꦿ     = ꦇꦺꦏꦥꦁꦿ

c. Bila bersambung dengan suku kata terbuka bersandhangan wulu atau taling dan tidak luluh, huruf ꦀ pada akhiran ꦀꦁꦿ berubah menjadi ꦍ .  

Contoh: 

+ꦐꦺꦈ +ꦀꦁꦿ = ꦊꦐꦺꦈꦍꦁꦿ

+ ꦇꦸꦂꦶ +ꦀꦁꦿ     =  ꦄꦇꦸꦂꦶꦍꦁꦿ  

d. Bila bersambung dengan suku kata terbuka ber-sandhangan suku, suku-nya berubah menjadi taling tarung.   

Contoh:   

ꦺꦀꦉꦸ  + ꦀꦁꦿ  = ꦺꦀꦺꦉꦻꦁꦿ

ꦑꦸꦏꦥꦹ  + ꦀꦁꦿ      = ꦑꦸꦺꦏꦥꦻꦁꦿ

e. Bila bersambung dengan suku kata terbuka bersandhangan taling tarung, huruf ꦀ-nya hilang tinggal ꦁꦿ.     


Contoh:                    

ꦺꦑꦻꦺꦋꦻ + ꦀꦁꦿ = ꦺꦑꦻꦺꦋꦻꦁꦿ

ꦺꦏꦻꦺꦊꦻ + ꦀꦁꦿ = ꦺꦏꦻꦺꦊꦻꦁꦿ

f. Bila bersambung dengan suku kata terbuka bersandhangan suku  atau taling tarung dan tidak luluh, huruf ꦀ pada akhiran ꦀꦁꦿ berubah menjadi ꦈ.  

Contoh:                    

+ ꦏꦌꦸ + ꦀꦁꦿ = ꦄꦏꦌꦸꦈꦁꦿ

ꦌꦺꦐꦻ + ꦀꦁꦿ   =  ꦌꦺꦐꦻꦈꦁꦿ

g. Bila bersambung dengan suku kata tertutup (sigeg), huruf ꦀ-nya berubah menjadi seperti huruf penutupnya  (sesigeg-nya).  

Contoh:

ꦌꦓꦁꦿ + ꦀꦁꦿ = ꦌꦓꦁꦕꦁꦿ

ꦑꦸꦑꦽ + ꦀꦁꦿ     = ꦑꦸꦑꦽꦃꦁꦿ

ꦈꦎꦖꦾ + ꦀꦁꦿ  = ꦈꦎꦖꦾꦀꦁꦿ

ꦌꦸꦐꦼ  + ꦀꦁꦿ   = ꦌꦸꦐꦼꦓꦁꦿ

ꦂꦷꦊꦸꦄꦿ + ꦀꦁꦿ = ꦂꦷꦊꦸꦄꦘꦁꦿ

ꦌꦷꦑ꥚ꦹꦐꦿ + ꦀꦁꦿ = ꦌꦷꦑ꥚ꦹꦐꦤꦁꦿ

 

IV. Panambang -e ( ꦺꦀ )

a. Bila bersambung dengan suku kata terbuka menjadi ꦺꦁ/ꦁꦶꦊꦸꦁꦿ . Penulisannya tidak menggunakan pasangan  ꦕ .

Contoh:

ꦊ꧉ꦐ  + ꦺꦀ             = ꦊ꧉ꦐꦺꦁ

ꦊ꧉ꦐꦶ  + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ    = ꦊ꧉ꦐꦶꦁꦶꦊꦸꦁꦿ

ꦺꦑꦻꦺꦌꦻ +ꦺꦀ = ꦺꦑꦻꦺꦌꦻꦺꦁ

ꦐꦽꦈ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ     = ꦐꦽꦈꦁꦶꦊꦸꦁꦿ

ꦄꦸꦽꦇꦶ + ꦺꦀ             = ꦄꦸꦽꦇꦶꦺꦁ

ꦄꦸꦽꦇꦶ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ     = ꦄꦸꦽꦇꦶꦁꦶꦊꦸꦁꦿ

b. Bila bersambung dengan suku kata tertutup (sigeg), ꦀ-nya berubah menjadi seperti huruf penutupnya.

Contoh:

ꦑꦷꦋꦸꦐꦿ + ꦺꦀ          = ꦑꦷꦋꦸꦺꦐꦤ

ꦑꦷꦋꦸꦐꦿ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ = ꦑꦷꦋꦸꦐꦤꦶꦊꦸꦁꦿ

ꦆꦸꦅꦸꦾ  + ꦺꦀ                = ꦆꦸꦅꦸꦾꦺꦀ

ꦆꦷꦅꦾ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ        = ꦆꦷꦅꦾꦀꦶꦊꦸꦁꦿ

ꦑꦸꦑꦽ + ꦺꦀ                 = ꦑꦸꦑꦽꦺꦃ

ꦑꦶꦑꦽ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ        = ꦑꦶꦑꦽꦃꦶꦊꦸꦁꦿ

ꦊ꧉ꦐꦷꦼ + ꦺꦀ                 = ꦊ꧉꧉ꦐꦷꦼꦺꦓ

ꦊ꧉ꦐꦷꦼ + ꦀꦶꦊꦸꦁꦿ        = ꦊ꧉ꦐꦷꦼꦓꦶꦊꦸꦁꦿ

V. Panambang -i ( ꦀꦶ )

a. Bila bersambung dengan suku kata terbuka, mendapat pertolongan akhiran ꦀꦁꦿ, maka penulisannya memakai pasangan ꦁ ( ꦕ ) .

Contoh:

ꦎꦸꦄꦁꦕꦶ dasarnya ꦇꦸꦄ

ꦓ꧄ꦐꦁꦕꦶ dasarnya ꦊ꧉ꦐ

ꦏꦺꦉꦁꦕꦶ dasarnya ꦈꦉꦶ

ꦁꦸꦺꦄꦻꦁꦕꦶ dasarnya ꦁꦸꦄꦸ/ꦆꦸꦄꦸ

ꦀꦁꦙꦹꦺꦈꦁꦕꦶ dasarnya ꦀꦁꦙꦹꦺꦈ/ꦅꦸꦺꦈ

ꦓꦶꦺꦉꦻꦁꦕꦶ dasarnya ꦄꦶꦺꦉꦻ

b. Bila bersambung dengan suku kata tertutup, huruꦀ -nya menjadi seperti huruf penutupnya.

Contoh:

ꦺꦁꦺꦏꦞꦝꦄꦘꦶ dasarnyaꦺꦆꦺꦏꦞꦝꦄꦿ

ꦅꦶꦐꦁꦟꦹꦉꦝꦶ dasarnya ꦐꦁꦟꦟꦹꦉꦿ

ꦓꦑꦽꦃꦶ dasarnya ꦄꦑꦽ

ꦁꦉꦼꦓꦶ dasarnya ꦆꦉꦼ

ꦏꦶꦇꦸꦾꦀꦶ dasarnya ꦈꦶꦇꦸꦾ

ꦀꦎꦠꦉꦽꦃꦶ dasarnya ꦌꦉꦽ

VI.  Panambang -ana ( ꦀꦁ )

a. Bila bersambung dengan suku kata terbuka, mendapat pertolongan akhiran ꦀꦁꦿ, maka penulisannya harus memakai pasangan   ꦕ . Bila suku kata berakhir legena, maka  huruf ꦀ  pada akhiran ꦀꦁꦿ pertolongan luluh dengan huruf terakhir tersebut.

Contoh:

꥙ꦓ  + ꦀꦁ  = ꥙ꦓꦁꦕꦁ

ꦐꦈ + ꦀꦁ = ꦐꦈꦁꦕꦁ

ꦉꦃ + ꦀꦁ = ꦉꦃꦁꦕꦁ

b. Bila suku kata akhir terbuka dengan sandhangan wulu, wulu-nya berubah menjadi taling.

Contoh:

ꦑꦉꦶ + ꦀꦁ = ꦑꦺꦉꦁꦕꦁ

ꦆꦉꦶ + ꦀꦁ = ꦆꦺꦉꦁꦕꦁ

ꦀꦶꦉꦶ + ꦀꦁ = ꦀꦶꦺꦉꦁꦕꦁ

c. Bila suku kata akhir terbuka dengan sandhangan suku, suku-nya berubah menjadi taling tarung.

Contoh:

ꦇꦓꦸ + ꦀꦁ = ꦇꦺꦓꦻꦁꦕꦁ

ꦉꦄꦸ + ꦀꦁ= ꦉꦺꦄꦻꦁꦕꦁ

ꦆꦸꦄꦸ + ꦀꦁ = ꦆꦸꦺꦄꦻꦁꦕꦁ

d. Bila bersambung dengan suku kata tertutup, hurufꦀ-nya berubah menjadi seperti huruf penutupnya.

Contoh:

ꦊ꧉ꦇꦶꦄꦿ + ꦀꦁ = ꦊ꧉ꦇꦶꦄꦘꦁ

ꦐꦁꦟꦹꦉꦿ + ꦀꦁ = ꦐꦁꦟꦹꦉꦝꦁ

ꦊꦷꦂꦄꦿ + ꦀꦁ = ꦊꦷꦂꦄꦘꦁ

VII. Panambang -en ( ꦀꦷꦁꦿ )

a. Bila bersambung dengan suku kata terbuka berubah menjadi ꦁꦷꦁꦿ penulisannya tidak menggunakan pasangan   ꦕ.

Contoh:

ꦆꦆ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦆꦆꦁꦷꦁꦿ

ꦐꦈ +  ꦀꦷꦁꦿ = ꦐꦈꦁꦷꦁꦿ

ꦆꦸꦄꦸ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦆꦸꦄꦸꦁꦷꦁꦿ

ꦄꦸꦎꦖꦶ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦄꦸꦎꦖꦶꦁꦷꦁꦿ

ꦀꦺꦈ +ꦀꦷꦁꦿ =ꦀꦺꦈꦁꦷꦁꦿ

b. Bila bersambung dengan suku kata tertutup, huruf ꦀ-nya berubah menjadi seperti huruf penutupnya.

Contoh:

ꦌꦸꦊꦸꦄꦿ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦌꦸꦊꦸꦄꦘꦷꦁꦿ

ꦺꦐꦻꦺꦋꦻꦐꦿ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦺꦐꦻꦺꦋꦻꦐꦤꦷꦁꦿ

ꦊꦸꦉꦇꦿ  + ꦀꦷꦁꦿ = ꦊꦸꦉꦇꦛꦷꦁꦿ

ꦑꦄꦽ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦑꦄꦽꦊ꧉ꦁꦿ

ꦀꦎꦼ + ꦀꦷꦁꦿ = ꦀꦎꦼꦓꦷꦁꦿ

ꦑꦷꦉꦾ +ꦀꦷꦁꦿ = ꦑꦷꦉꦾꦀꦷꦁꦿ

sumber : facebook/sinaunulisjawa/dokumen

Sandhangan Aksara Jawa

I. Sandhangan swara  digunakan untuk mengubah bunyi vokal huruf dasar (dentawyanjana) dan huruf pasangan. Jumlah sandhangan swara 5 buah yaitu:

 

a.      ꦶ   disebut ulu (wulu) ditulis di atas huruf sebagai penanda bunyi i; bila yang diberi sandhangan adalah huruf pa­sangan yang terletak di bawah huruf dasar, sandhangan wulu berada di atas huruf yang …di-pasang-i.

Contoh:

 

ꦀꦶꦄꦶ꧋ ꦇꦃꦶ꧋ꦄꦎꦠꦶ꧋ꦊꦄꦛꦶ꧋ꦆꦏꦞꦶ꧋ꦏꦁꦙꦙꦶ꧋ꦂꦁꦟꦶ꧋

 

b.   ꦸ   disebut suku ditulis bersambung dengan huruf  atau pasangan  yang diberi

 

sandhangan sebagai penanda bunyi u.

Contoh:

 

ꦉꦸꦎꦸ꧋ꦑꦸꦄꦸ꧋ꦂꦁꦙꦹ꧋ꦄꦁ꥛ꦹ꧋ꦏ꥚ꦹꦏꦞꦿ

 

c.  ꦺ  disebut taling ditulis di depan huruf dasar yang diberi sandhangan sebagai

 

penanda buyi é atau è; bila yang diberi sandhangan adalah huruf pasangan, letak taling  di depan huruf yang di-pasang-i.

Contoh:

 

ꦺꦄꦺꦁ꧋ꦐꦺꦈ꧋ꦄꦝꦺꦁꦦ꧋ꦐꦺꦁꦟꦄꦿ꧋ꦊꦺꦎꦖꦁꦿ

 

d.  ꦺ —ꦻ  disebut taling tarung, ditulis mengapit huruf yang diberi sandhangan sebagai penanda bunyi o;  bila yang diberi sandhangan adalah huruf pasangan yang  terle­tak di bawah huruf dasar, taling tarung mengapit huruf dasar yang di-pasang-i, sedangkan pada huruf pasangan yang terletak di belakang  huruf dasar yang di-pasang-i, taling  berada  di depan huruf dasar yang di-pasang-i dan tarung-nya di belakang pasangan.

Contoh:

 

ꦺꦉꦻꦺꦃꦻ꧋ꦏꦺꦁꦟꦻ꧋ꦀꦺꦏꦞꦻ꧋ꦀꦏꦿꦺꦑꦝꦼꦻ꧋

 

e.      ꦷ  disebut pepet, ditulis di atas huruf, sebagai penanda bunyi e; bila yang diberi sandhangan adalah huruf pasangan yang terletak di bawah huruf dasar, pepet terletak di atas huruf dasar yang di-pasang-i. Bila pepet  digunakan bersama-sama dengan sandhangan cecak, tanda cecak berada di tengah-tengah pepet. Bila digunakan bersama-sama sandhangan layar, tanda layar berada di samping pepet.

Contoh:

 

ꦊꦷꦐꦷꦉꦿ꧋ꦀꦎꦷꦿ꧋ꦄꦷꦁꦙꦷꦉꦿ꧋ꦇꦷꦃꦷꦼ꧋ꦑꦁꦟꦷꦉꦿ꧋ꦇꦷꦐꦷꦽ

 

Huruf r dan ꦉ bila mendapat sandhangan pepet ini mempunyai bentuk tersendiri yaitu ꥙ (huruf pasangan-nya      ꦷꦝ).

 

Contoh:    ꥙ꦓ꧋꥙ꦏꦷꦇꦿ꧋ꦀꦏꦝꦷꦼ꧋ꦀꦏꦿꦑꦝꦷꦇꦿ꧋

 

Huruf ꦃ  bila mendapat sandhangan pepet mempunyai bentuk tersendiri yaitu ꦊ꧆  (huruf pasangan-nya   ꦞ꧆ ).

 

Contoh:  ꦊ꧆ꦐꦷꦅꦿ꧋ꦊ꧆ꦏꦥꦷꦁꦿ꧋ꦇꦌꦄꦞ꧆ꦁ꧋ꦊ꧆ꦐꦷꦼ꧋ꦇꦌꦄꦞ꧆ꦐꦷꦼ꧋

II. Sandhangan wyanjana (penanda gugus konsonan), 3 buah yaitu:

 

a. ꧂       disebut cakra, pengganti panjingan (klaster) r, ditulis bersambung dengan huruf  dasar atau huruf pasangan  yang dilekati; (pada Program Carakan Dukunov ada 3 jenis yaitu: V untuk huruf dasar yang bentuknya pendek misalnya ꦁ꧋ ꦊ꧋ ꦇ; SHIFT + V untuk huruf dasar yang bentuknya pa…njang misalnya ꦆ꧋ ꦄ꧋ ꦎ; dan ALT + V untuk huruf pasangan, kecuali huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ). Penulisan dalam sistem Dukunov ketik dulu sandhangan ini baru hurufnya untuk huruf dasar sedangkan untuk huruf pasangan sandhangan ini diketik sesudah hurufnya)

Contoh:

 

ꦊꦸ᯻ꦆ꧋ꦀꦁꦙ꧂ꦅ꧋꧂ꦁꦌꦼ꧋ꦇꦇ꥛꧃꧋ꦺꦆꦻꦏꦥ꧃꧋

 

b.    ꧄     disebut keret, pengganti cakra dan pepet, ditulis bersambung dengan huruf dasar atau huruf pasangan yang dilekati; (pada Program Carakan Dukunov keret ini ada 2 jenis: untuk huruf dasar tombol  ] dan untuk huruf pasangan SHIFT + ], kecuali huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ)

Contoh:

 

ꦄ꧄ꦏꦸꦇꦿ꧋ꦄ꧄ꦆ꧋ ꦄꦆ꧄ꦏꦿ꧋ꦆꦷꦁ꥛꧅ꦏꦿ꧋ꦓꦏꦞ꧄ꦆꦿ꧋

 

c.   ꧀  disebut pengkal, pengganti panjingan y, ditulis bersambung dengan huruf dasar atau huruf pasangan yang dilekatinya (pada Program Carakan Dukunov tanda ini terletak pada tombol [ untuk huruf dasar dan SHIFT + [ untuk huruf pasangan, kecuali huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ)

Contoh:

 

ꦄ꧀ꦀꦶ꧋᯻ꦐꦊ꧀ꦄꦿ꧋ꦀꦏꦞ꧀ꦄꦿ꧋ꦀꦏꦥ꧁ꦹꦄꦿ꧋ꦺꦃꦏꦥ꧁ꦄꦿ

 

III. Sandhangan  panyigeging wanda (penutup suku kata) berjumlah tiga (3) buah yaitu:

a.  ꦾ  disebut wignyan, pengganti ꦀ sigeg (konsonan h), ditulis di belakang huruf dasar atau huruf pasangan (huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ); bila huruf pasangan terletak di bawah huruf dasar, wignyan ditulis di belakang huruf dasar yang diberi pasangan. (Pada Program Carakan Du…kunov tanda ini terletak pada tombol A)

Contoh:

 

ꦂꦾꦀ꧋ ꦇꦍꦾ꧋ꦆꦁꦛꦾ꧋ꦓꦏꦞꦾ꧋ꦓꦏꦥꦾ꧋ꦈꦁꦚꦾ꧋ꦈꦁꦖꦾ꧋

 

b.  ꦽ  disebut layar, pengganti ꦃ sigeg (konsonan r), ditulis di atas huruf dasar atau huruf pasangan (huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ); bila huruf pasangan terletak di bawah huruf dasar, layar ditulis di atas huruf dasar yang diberi pasangan. (Pada Program Carakan Dukunov tanda ini terletak pada tombol ‘, tanda petik tunggal)

Contoh:

 

ꦇꦑꦽ꧋ꦄꦽꦇ꧋ꦐꦂꦽ꧋ꦆꦏꦞꦽ꧋ꦉꦎꦖꦽ꧋ꦓꦏꦥꦽ꧋ꦋꦊꦚꦽ꧋

 

c.    ꦼ  disebut cecak, pengganti ꦓ sigeg (konsonan ng), ditulis di atas huruf dasar atau huruf pasangan (huruf pasangan ꦔ꧋ꦛ꧋ꦞ); bila huruf pasangan terletak di bawah huruf dasar, cecak ditulis di atas huruf dasar yang diberi pasangan. (Pada Program Carakan Dukunov tanda ini terletak pada tombol SHIFT + I)

Contoh:

 

ꦄꦂꦼ꧋ꦊꦼꦄꦆꦿ꧋ꦀꦎꦼ꧋ꦄꦏꦥꦼ꧋ꦉꦎꦖꦼ꧋ꦊꦁꦚꦼ꧋ꦐꦏꦞꦼ꧋

sumber : facebook/sinaunulisjawa/dokumen

 

Aksara Jawa Ora Kena Tumpuk Telu

Aksara Jawi boten pareng migunakaken pasangan tumpuk tiga. Nadyan ta ugi wonten tetembungan Jawi ingkang tumpuk tiga konsonan-(napa nggih basa Jawinipun?)ipun. Awit saking menika, sandhangan panyigeg pangkon ( ꦿ ) saged dipun-ginakaken wonten ing satengahing tembung.

Sumangga andadosaken paniti priksa..

1.TEMBUNG LINGGA

Tuladha:

a. gemblung: ꦐꦷꦏꦿꦑꦹꦼ꥚ꦹꦹ

 

b. kinclong: ꦄꦶꦎꦿꦺꦂꦝꦼꦻ

 

c. onclang: ꦺꦀꦻꦎꦿꦂꦝꦼ

 

d. gemblong: ꦐꦷꦏꦿꦺꦑꦝꦼꦻ

 

e. anjlog: ꦀꦎꦿꦺꦌꦝꦻꦐꦿ

 

(kados dene statusipun Bapa Yayat, CUMPLUNG KECEMPLUNG JUMBLENG/

 

ꦂꦸꦏꦞ꥚ꦹꦼꦄꦷꦂꦷꦏꦞ꥚ꦹꦼꦌꦸꦏꦿꦑꦝꦷꦼ )

 

Pranyata miturut Padmosoekotjo, pasangan pa …ꦞ, sa …ꦛ ugi ha …ꦔ ingkang papanipun wonten ing sisih kanan ingkang dipunpasangi, saged dipunparingi pasangan malih waton boten ketingal tumpuk tiga. Kados CUMPLUNG kaliyan KECEMPLUNG menika.. Ananging ingkang JUMBLENG kedah dipunpangku rumiyin awit pasangan ba …ꦥ papanipun wonten ngandhapipun aksara ingkang dipunpasangi. Nuwun.

2. TEMBUNG ANDHAHAN

Tuladha:

a. mblusuk= am- + blusuk —–> ꦀꦏꦿꦑ꥚ꦹꦇꦸꦄꦿ

 

b. mbledhos= am- + bledhos —-> ꦀꦏꦿꦑꦝꦷꦺꦋꦻꦇꦿ

 

c. ndlongop= an- + dlongop —-> ꦀꦁꦿꦺꦅꦝꦻꦺꦓꦻꦊꦿ

 

d. njlimet= an- + jlimet —–> ꦀꦎꦿꦌꦝꦶꦏꦷꦆꦿ

 

e. ndlosor= an- + dlosor —–> ꦀꦁꦿꦺꦅꦝꦻꦺꦇꦽꦻ

Ing satunggaling ukara, sandhangan panyigeg PANGKON ( ꦿ ) ugi saged nggantosaken tandha koma/ PADA LINGSA ( ꧋ ) menawi kapanggih tembung ingkang kedah sigeg nanging sawingkingipun ugi wonten koma.

tuladha:

—-> Aku mangan, adhiku dolanan.

Menika boten kaserat: (a.) ꧎ꦀꦄꦸꦏꦓꦁꦔꦋꦶꦄꦸꦺꦅꦻꦉꦁꦕꦁꦿ

 

ananging kaserat: ( b.) ꧎ꦀꦄꦸꦏꦓꦁꦿꦀꦋꦶꦄꦸꦺꦅꦻꦉꦁꦕꦁꦿ꧋

 

Katrangan: Seratan (a.) nika dados ukara ‘rancu’ amargi tanpa koma. Menapa ‘aku mangan adhiku (sing lagi) dolanan’? Menawi badhe ngangge pada lingsa, lajeng dipunserat ing pundinipun pasangan HA? Dadosipun ingkang leres nggih seratan (b.).

Mekaten ingkang saged kula aturaken.. Wonten kirangipun, kula tansah ngrantos paniti priksa saking ingkang langkung pana babagan menika..

Nuwun..

^_^

 

ꦺꦊꧏꦅ꧀ꦇꦦꦶ
sumber : facebook/sinaunulisjawa/dokumen

Aksara Murda

Huruf murda  pada prinsipnya tidak pernah  ada.  Yang  biasa disebut huruf murda sebenarnya adalah huruf mahaprana,  yaitu huruf yang disuarakan dengan nafas berat. Jumlah huruf murda (yang dianggap huruf murda) ada delapan (8) buah seperti berikut.

 

ꦨ꧋ ꦩ꧋ ꦪ꧋ ꦫ꧋ ꦬ꧋ ꦌ꧆꧋ ꦭ꧋ ꦮ

 

pasangan               ꦯ     ꦰ        ꦱ            ꦲ     ꦳        ꧇ꦠ         ꦴ          ꦵ

 

huruf biasa:         ꦁ  ꧋ꦄ꧋ ꦆ꧋ ꦇ ꧋  ꦊ꧋ꦎ꧋ꦐ꧋ꦑ

 

Huruf ꦂ tidakmemiliki huruf murda tetapi ada pasangannya yaitu      ꧞  dan sekarang sudah tidak digunakan.

 

Huruf  ꦌ꧆  sekarang sudah tidak digunakan

 

Huruf murda hanya digunakan untuk penghormatan (tata prunggu) bagi orang-orang besar. Sekarang ini di era demokrasi seyogyanya digunakan untuk siapa pun tetapi satu nama cukup satu huruf murda.

 

Hanya nama Tuhan yang ditulis dengan menggunakan huruf murda semuanya  ꦭꦸꦇꦱꦶ꧕ꦛꦉꦝꦾ.

 

 

(Padmosoetkotjo, S. 1986. Wewaton Panulise Basa Jawa Nganggo Aksara Jawa.  hal. 37-39)

Tandha wacan Aksara Jawa

Tanda-tanda baca pada huruf Jawa disebut pada. Namun tanda baca pada huruf Jawa tidak sama banyaknya dengan tanda baca pada huruf latin. Di dalam huruf Jawa tidak terdapat tanda hubung (-) mengingat huruf Jawa ditulis tanpa spasi; juga tidak terdapat tanda tanya (?) dan tanda seru (!).

Pada dan tanda-tanda lain yang dipakai pada penulisan  dengan h…uruf Jawa ada 12 macam seperti berikut.

 

1.    ꧛      disebut pada luhur, bunyinya mangajapa, gunanya untuk pembukaan surat di

depan satatabasa/adangiyah; berasal dari atasan/orang tua kepada bawahan/anak.

 

2.   ꧚      disebut pada madya sebagai pembukaan surat  dari sesama/sederajat. Tanda ini

juga digunakan pada karya sastra yang ditulis dalam bentuk tembang (digunakan pada setiap permulaan bait).

 

3.    ꧙     disebut pada andhap sebagai pembukaan surat dari bawahan/anak kepada

atasan/orang tua.

 

4.  ꧚ꦑꦖ꧚   disebut purwa pada, di tengah tersebut dibacai becik sebagai

pembuka karya sastra berbentuk tembang di depan bait pertama pupuh pertama.

 

5.  ꧚ ꦨ꧃ꦙ꧚  disebut madya pada, di tengah-tengah itu dibaca mandrawa artinya

jauh, pada ini ditulis di akhir pupuh bila akan berganti jenis tembang (bersambung pupuh lain).

 

6.  ꧚ ꦑ꧉꧚  disebut wasana pada, di tengah-tengah itu dibaca iti, artinya tamat,

pada ini digunakan pada akhir cerita yang ditulis dalam bentuk tembang.

 

7.  ꧎꧔꧎     disebut guru atau uger-uger,  digunakan untuk: (1) surat, sesudah satatabasa;

(2) permulaan cerita berbentuk prosa.

 

8.  ꧎           disebut adeg-adeg atau ada-ada, dipakai untuk pembukaan kalimat dan paragraf

(satu paragraf satu tanda ini).

 

9.  ꧌꧔꧌  disebut pada pancak, digunakan untuk: (1) pe­nutup cerita berbentuk prosa;

(2) penutup sesudah wasa­nabasa pada surat.

 

10.  ꧋        disebut pada lingsa, digunakan seperti halnya koma; kalau sudah ada pangkon (ꦿ)

tak perlu tanda ini. Pada tembang tanda ini digunakan sebagai pemisah baris (gatra).

 

11.  ꧌      disebut pada lungsi, fungsinya seperti tanda titik, bila yang diberi tanda ini sesudah

suku kata tertutup (dengan pangkon /ꦿ) tinggal menambah pada lingsa sudah berarti pada lungsi.

 

12.  ꧐        disebut pada pangkat, gunanya untuk (1) mengapit angka huruf Jawa dan (2) seperti titik dua  pada huruf Latin.

 

 

Catatan:

Saat ini sudah jarang orang menulis surat dengan huruf Jawa sehingga pada luhur, pada masya, dan pada andhap sudah jarang digunakan.

sumber : facebook/sinaunulisjawa/dokumen